Review Paper Towns

image

Berawal dari trailer yang tayang disalah satu acara di stasiun tv swasta Indonesia, film ini direview oleh hostnya yang membuat gue ngebet mau nonton. Reviewnya mengatakan kalau film ini mengisahkan seorang cowok yang dibantu teman-temannya dalam mencari dan memecahkan potongan-potongan petunjuk yang ditinggalkan untuk menemukan keberadaan cewek yang disukainya. Berasa agak mirip dengan adegan di film Indonesia yang pemainnya Adipati Dolken dan Eva Celia dengan judul Adriana, tapi miripnya hanya nyari petunjuk itu doang. Gak hanya review itu saja yang bikin gue tambah penasaran sama Paper Towns, ternyata film yang diadaptasi dari novelnya ini adalah pengarang yang sama di film The Fault In Our Stars. Kebayangkan ekspektasi yang gue ciptain buat film ini bakal sama dengan film sebelumnya walaupun bukan cerita sambungan.

Oke langsung saja, sumpah cerita film ini bener-bener gak sesuai ekspektasi, gak ketebak, so unpredictable. Mereka (author) yang membuat bingung si penonton mungkin bisa disebut jenius, semakin kita dibuat bingung semakin kita keliatan seperti orang bodoh, oke sukses pak. Okelah si author/ pengarangnya John Green punya gaya sendiri yang membuat gue salut dan bahaya. Salut karena cukup berani membuat cerita yang gak sesuai ekspektasi orang kebanyakan, bahaya karena tidak semua penonton menyukainya.

Langsung ke isi cerita deh. Dari awal gue memang kurang suka sama si karakter Margo, pemeran utama cewek. Karakter yang rumit, suka misteri, petualangan dan pikirannya gak kayak orang kebanyakan. Kelakuannya kayak minta perhatian sama si Quentin, pemeran utama cowok. Saat dia masih bersama orang lain, dia pergi meninggalkan Que, pergi meninggalkan bekas kayak kopi yang abis diminum meninggalkan ampas. Namun saat si Margo tahu kalo pacarnya itu br*ngsek barulah ia muncul kembali kebatangidungnya Que, apa gak kamfret. Tapi si Que nurut aja diajakin balas dendam ke pacarnya Margo. Kalau dipikir-pikir gak heran juga karena memang dari awal si Que udah jatuh cinta sama Margo, wajar cinta kan memang membutakan mata seseorang 😦 Jadi inget quote yang bilang kenapa orang baik selalu pergi dengan orang yang salah.

Kelakuan si Margo yang kemudian hilang begitu aja mengindikasikan kalau dia itu memang minta perhatian. Tapi belakangan atau di akhir cerita baru tahu kalau dia pergi memang tidak ingin dicari oleh Que, karena kota itu (salah satu nama kota di New York) memang cocok untuk gadis seperti dia, jadi memang sengaja menghilang. Que mengira petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan Margo adalah alasan untuk dirinya ditemukan (get lost get found) padahal Margo memang selalu meninggalkan petunjuk dirumahnya kalau dia sedang pergi. Kebayang bermil-mil Que tempuh ke kota itu dari Orlando demi mencari Margo untuk mengungkapkan perasaannya dibayar dengan kenyataan yang harus ia terima. Jadi kesimpulannya si Que hanyalah korban kegeeran dan baper banget (koreksi kalau gue salah). Ini yang gue sebut gak sesuai ekspektasi.

Berikut kutipan yang berhasil gue catet dari film ini:

Yang paling buruk adalah percaya orang itu lebih dari segalanya. Margo bukanlah keajaiban, dia bukan petualangan, dia bukan benda yg berharga, dia hanyalah seorang gadis. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari aku sangat salah. Bukan hanya tentang margo, aku salah mengenai banyak hal, dulu aku percaya semua orang dapat keajaiban, dan aku masih mempercayainya, tapi ternyata keajaiban aku adalah ini (adegan saat bersama teman-temannya Radar dan Ben) – Quentin, Paper Towns

Pesan moral yang gue tangkap dari film ini:
1. Tidak semua yang kamu anggap baik adalah baik untuk mu begitu pun sebaliknya.
2. Jangan sekali-kali kamu nentuin sendiri dan menebak-nebak alur cerita film, karena itu hanya akan membuat kamu kecewa

Oke sekian review ku, semoga bermanfaat buat kamu yang mau nonton film ini. Jangan berharap terlalu banyak ya, karena jika kamu kecewa itu karena harapan yang kamu bangun sendiri 😀

Iklan