Bad Genius

Even if you don’t cheat, life cheats you anyways

Kamu tidak bercanda kan? Apa ini jadi pembenaran kamu buat curang?

Karena satu kejadian bodoh bisa membuatnya menjadi orang brengsek dan menjijikkan.

Ini adalah awal cerita seorang joki SMA di Thailand. Siapa yang bisa mengira ternyata orang pintar adalah orang bodoh yang diberi label pintar. Ia gunakan kepintarannya tidak pada tempatnya, ia gunakan kepintarannya tidak pada semestinya. Oke kamu pintar, tapi maaf kamu tidak benar.

Ia bodoh karena melakukan hal bodoh. Ia bodoh karena memberi jawaban kepada temannya yang tidak bisa mengerjakan ulangan. Ia bodoh karena tidak sadar satu kejadian bodohnya itu bisa membuat efek domino yang semakin membuat ia menjadi bodoh.

Hanya karena uang ia dikadali teman-temannya menjadi bodoh, hanya karena uang ia dimanfaatkan untuk menjadi tolol, hanya karena uang ia membujuk teman pintar lainnya untuk menjadi bodoh sepertinya, hanya karena uang ia bersusah payah dengan resikonya, dan hanya karena uang ia rela mengecewakan ayahnya.

Ini semua adalah istilah yang gue ingat dari teman gue Hasyim “pintar tapi lolo (kata lain dari bodoh)”.

Overall gue kesel nonton film ini, jadi jangan salahkan gue yang terus mengumpati si Lynn dan Bank, pintar tapi lolo.

Satu scene yang sudah gue tebak, si Lynn akhirnya dapat hidayah dan sadar selama ini ia salah. Namun Bank tetap menjadi bodoh karena baru sadar rasanya pegang uang banyak. Maklum OKB. Wkwkwk.

Pesan moral:

  • Mengajarkan lebih baik daripada memberi contekkan. 
  • Uang bisa membutakan mata seseorang.
  • Uang benar-benar bisa merubah seseorang
  • Nilai rendah lebih terhormat daripada nilai tinggi yang bukan berasal dari kemampuan diri sendiri. Ini bukan munafik, kamu bisa rasain sendiri.
  • Dimana ada kemauan pasti ada jalan.
  • Nanti juga lo paham
Iklan

Review The Teacher’s Diary

Bahwa merindukan seseorang yang jauh disana dapat membuatmu bahagia dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya – Pak Song, The Teacher’s Diary

The Teacher’s Diary melebihi ekspektasi gue. Film Thailand produksi tahun 2014 yang barusan gue tonton buktinya.

Ini tentang dua orang guru, Bu Ann dan Pak Song, yang harus mengajar di sekolah rumah kapal (sekolah apung) jauh dari Bendungan Mae Ping, kota antah berantah di negeri Thailand.

Sosok Pak Song sudah digambarkan di awal. Lucu, jenaka, polos, ah kamu pasti langsung jatuh cinta.

Sedangkan Bu Ann adalah guru yang berprinsip, berani, penyayang, dan tegar.

Ini bukan tentang dua orang guru yang mengajar bersamaan kemudian jatuh cinta karena frekuensi bertemu, bukan. Justru cinta muncul karena mereka belum pernah bertemu sama sekali.

Apakah mungkin menyukai dan mencintai seseorang yang belum pernah kita temui? Bisa saja.
 
Memang di awal kita dibuat bingung siapa yang mengajar duluan di sekolah rumah kapal itu tapi belakangan kamu juga bakal tahu kalau Bu Ann lah yang pertama mengajar dan Pak Song adalah pengisi dan pengganti Bu Ann yang pindah ke sekolah lain karena sesuatu dan lain hal.

Siapa sangka Bu Ann yang suka menulis diary sejak pertama kali dia diasingkan mengajar di sekolah kapal adalah jembatan mempertemukan dia dengan Pak Song. Ah cinta memang misteri yang indah.

Pak Song yang kacau, tidak tahu menahu, tidak sabar dalam mengajar murid dan tidak pernah kepikiran untuk menjadi guru karena dari awal sudah penuh kesusahan, untungnya menemukan buku harian Bu Ann yang tertinggal di sekolah itu. Diary itu telah menjadi panduannya yang sangat menolong, menolongnya untuk mengerti bahwa hidup disini harus bisa berenang, harus bisa menjadi lebih dari guru, dan harus menjadi seperti orang tua mereka.

Pak Song menulis curahan hatinya di buku diary Bu Ann dan siapa yang bisa menebak kalau Bu Ann akan membacanya pun membalas tulisan Pak Song di buku diary yang sama.

Hal yang tak terduga terjadi. Pak Song yang sukses move on dari pacarnya yang selingkuh harus mendengar kabar kalau Bu Ann akan menikah. Hatinya hancur seperti badai yang berhasil membanting dan menghajar sekolah kapal.

Dan seperti sudah diatur Tuhan, Bu Ann yang tiga bulan lagi akan menikah mendapati hatinya dikecewakan oleh Nui pacarnya akibat menghamili wanita lain.

Celaka, gue hampir dibikin kecewa karena Bu Ann CLBK dengan pacar brengseknya si Nui dan yeeeeaaa tidak jadi wkwkwk.

Lewat diary lah Bu Ann sadar kalau Nui tidak pernah bisa mengerti jadi untuk apa bersama kembali. Gue cekikikan dalam hati kenapa juga si Nui bawa diary Bu Ann yang sengaja ditinggalkannya untuk Pak Song saat telah mendapatkan hatinya lagi. Geblek wkwkwk.

Hingga pada akhirnya Bu Ann dan Pak Song bertemu di sekolah yang mereka sebut S.O.G. (sekolah orang galau).

Inikah yang dimaksud “Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah agar dapat bertemu dengan orang yang tepat dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”?. Insha’ Allah.

Maafkan gue yang hanya menarik intinya dalam mereview. Dengan tidak menghilangkan rasa penasaran dari keseluruhan isi film, kamu bisa langsung cari, donlot dan menontonya. Dijamin, recommended, bagus, must see.

Pesan moral:

Tidak melulu soal cinta tapi cara mereka mengajar dengan tulus dan rela berkorban demi melihat murid-muridnya lulus bisa jadi inspirasi siapa pun yang menontonnya terlepas kamu guru atau bukan dan film ini pas untuk memperingati hari guru kemarin.

Selamat menonton πŸ™‚

Review The Circle

Kenapa gue menonton film ini? Tentu saja karena Emma Watson. Gue selalu suka dengan doi sejak pandangan pertama di Harry Potter. Tidak peduli komentar netizen yang mengatakan film ini jelek dan membosankan. Oke gue akui kalau gue gregetan nungguin aksinya yang ternyata datar saja, tapi who cares.

​The Circle, film yang barusan gue tonton, adalah contoh aplikasi sosial media yang sudah berlebihan. Mengerikan ketika membayangkan jika aplikasi seperti itu ada di dunia saat ini. Tapi bukankah kita sedang menuju ke era itu? Who knows.

Mae Holland (Emma Watson) adalah karyawan baru di The Circle. Bersama temannya Annie, Mae merasa tidak perlu mencari tempat kerja lain lagi.

The Circle adalah perusahaan yang bergerak dibidang teknologi canggih berbau sosial media. Sejenis aplikasi Path, Instagram dengan instastory nya, dan vlog gue rasa. Maaf sotoy.

Mae yang pemula tiba-tiba menjadi topik utama dan orang pertama yang harus mengaplikasikan program SeeChange setelah insiden bodoh yang ia lakukan. Ia harus tetap online dari membuka mata sampai menutup mata kembali kecuali di kamar mandi melalui kamera kecil sebulat bola mata yang dipasang di pakaiannya, meskipun gue kira ia tidak nyaman. 

Aplikasi The Circle memang mempunyai kelebihan tapi bukan berarti tidak ada kekurangan. Salah satu kelebihannya bisa membantu pemerintah dan polisi dalam menangkap buronan hanya kurang 20 menit melalui program “semua orang bisa ditemukan”. Kekurangannya tidak ada privasi dalam menikmati setiap momen yang terjadi untuk diri sendiri ataupun bersama orang yang dicintai, karena program ini, melalui bos besarnya Eamon Bailey (Tom Hanks) yang karismatik seperti Steve Jobs, mensugesti mereka bahwa “knowing is good, knowing everything is better”, rahasia adalah kebohongan, semua harus dibuka, terbuka dan terbuka adalah kepedulian. 

Bukan hanya Mae yang harus terbuka kepada semua pengguna The Circle tapi orang tuanya juga bahkan Mercer, teman lelaki Mae, menjadi korban The Circle. Ia tewas kecelakaan masuk tebing jurang karena dikejar dan diburu oleh pemakai The Circle. Kejadian pengejaran itu disiarkan langsung dari semua kamera pengguna The Circle yang terhubung ke perusahaan tempat Mae memandu acara “semua orang bisa ditemukan”. Mae berteriak, shok berat.

Mae merasa ada yang salah dengan The Circle. Semakin lama ia semakin sadar setiap keputusan yang dibuatnya mempengaruhi kehidupan orang disekelilingnya, orang tua, teman bahkan dunia, termasuk kejadian Mercer, orang tuanya dan Annie sahabatnya. Ia tidak ingin tenggelam dalam kesedihan dan ia tahu apa yang harus dilakukannya. Hingga setelah pertemuannya dengan Ty, salah satu pencipta program The Circle, Mae berhasil menjebak bos besar The Circle, Eamon Bailey dan Tom Stenton, dihadapan semua penonton dalam ruangan itu. Mae ingin memberi pelajaran kepada dua bos besar itu bagaimana rasanya semua informasi mereka terbuka lebar oleh para pengguna The Circle melalui kamera kecil sebulat bola mata yang telah disebutkan sebelumnya.

Tebakan gue yang meleset di ujung film adalah gue kira Mae akan memukul Drone yang sedang mengawasinya ketika ia bermain kayak, tapi ia melakukannya dengan elegan, just say hello.

Yang gue suka dari film ini:

Lingkungan The Circle yang bisa jadi idaman semua karyawan di dunia. Persis senyaman perusahaan Google di film The Internship.

Terakhir pesan dari gue:

Teknologi dan internet bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat karenanya bijaklah bersosial media, jangan biarkan mereka menelan privasimu bulat-bulat

Must see I guess.

Antara Kingsman Dan Permintaan Maaf Gue

Gue salah. Ya gue ngaku salah. Hanya karena poster sebuah film gue langsung menilai. Hebat kan gue?

Seharusnya slogan “jangan menilai buku dari covernya” selalu gue inget. Seharusnya “jangan menilai film sebelum nonton” selalu gue coba. Maklumin deh, gak ada yang ngingetin gue. Yeah is it too late now to say sorry?

Karena referensi dari adek gue, gue kasih jempol buat Kingsman: The Golden Circle yang telah gue tonton. Gak peduli yang pertama gue lewati karena poster itu.

Setelah gue nonton yang pertama, Kingsman: The Secret Service, malam ini for the very first time tanpa perlu nunggu fd kakak gue, gue bisa dibilang tolol karena melewatkan film yang keren ini. Thanks Global TV btw.

Yes gue jadi tau jalan cerita sebelumnya. Harry pria yang berjasa membantu Eggsy menjadi agen Kingsman sekaligus membalas budi karena telah diselamatkan ayahnya Eggsy, pertemanan Eggsy dan Roxy yang asik, Charlie si pecundang, penyelamatan putri Swedia yang dikurung di penjara dan lain sebagainya. Sayang di film kedua Arthur, Roxy, dan Merlin mesti mati, padahal kan gue baru kenal. Oke gak penting.

Gue gak bisa bohong hal yang menarik minat gue saat nonton Kingsman adalah Eggsy. Anak muda dengan stelan jas plus kacamata jadi daya tarik sendiri. 

Pesan moral:

– Don’t judge a book by its cover

– Don’t be shy to confess your fault

– Manners maketh man

See you.

Review 500 Days Of Summer

Akhirnya 500 days of summer berhasil gue tonton juga karena my bro Iyan. Thanks yan.

Sebagai salah satu pelahap film drama, gue udah lama ngidam pengen nonton ini berkat akun movie memories di twitter.

Langsung saja. Awal kisah diceritakan 500 days of summer bukanlah tentang love story. So what is all about?.

Tom Hansen yang diperankan Joseph Gordon-Levitt meyakini ia baru akan bahagia dengan seseorang yang tepat. Sedangkan Summer Finn yang diperankan Zooey Deschanel alias tokoh utama wanitanya tidak percaya dengan yang namanya cinta. Memang ada apa dengan cinta? 

Tom dipertemukan dengan Summer oleh takdir di perusahaan yang sama dimana Summer adalah asisten bosnya. Sebut saja perusahaan kartu ucapan. Summer yang memang cantik, penuh percaya diri berhasil memikat hati Tom (dan pria-pria yang ada disekitarnya lewat sekelebat cerita masa mudanya) saat padangan pertama. Itulah saat Tom jatuh cinta dan yakin kalau Summer adalah orang yang tepat untuknya ditambah mereka berdua punya kesukaan yang sama.

Tom dengan segala cara mencoba pedekate dengan Summer bahkan sengaja memutar musik yang Summer suka keras-keras untuk secuil perhatian darinya, akhirnya berhasil membuat Summer tertarik kepadanya dengan kejadian yang tak diduga sama sekali oleh Tom. You know that.

Tom dengan rasa gembiranya yang meluap-luap tidak mampu menahan diri untuk melompat, menyanyi dan berdansa bersama dunia. Inikah rasanya? Lo kate judul sinetron itu.

Mereka berdua akhirnya berjalan bersama, nonton, makan, pergi ke Ikea yang berasa di rumah sendiri, berpegangan tangan, dan lo bisa lanjutin sendiri.

Sampai pada satu momen kalau Summer menganggap hubungannya dengan Tom hanyalah sebatas pertemanan, just for fun, ia tidak percaya cinta dan tidak mau terikat hubungan alias tidak ingin berkomitmen. Aneh bin ajaib.

Tom yang agak kaget masih mengiyakan pernyataan si Summer. Namun kejadian saat Summer digoda oleh lelaki yang membuat Tom memukul hidung lelaki belang itu berujung Tom dipukul balik, reaksi Summer berlebihan dengan memarahi Tom agar tidak melindunginya. Memang aneh.

Tom yang tidak habis pikir dengan Summer akhirnya mengatakan apakah yang mereka lewati selama ini adalah cara memperlakukan teman? Itu lebih dari teman (bener, gue juga ikut teriak), dan ia sudah menganggap kalau mereka adalah pasangan. Tom ingin kepastian. Film ini memberi tahu kita kalau bukan cewek saja yang minta kepastian (kemudian nyanyi Gantung nya Melly Goeslaw).

Summer yang menyesal, tidurnya selalu gelisah bahkan kesepian kemudian meminta maaf pada Tom, dan karena polosnya Tom mereka pun berbaikan kembali.

Jalan cerita yang harinya dibolak-balik oleh si pembuat cerita akhirnya sampai kepada satu scene (yang sudah dibocorkan di awal film) dimana Summer merasa bosan dengan Tom. Apapun yang dikatakan Tom, Summer seperti ngantuk lemas belum makan ngeladanin si Tom hingga pada akhirnya Summer meninggalkan kantor yang selama ini satu atap dengan Tom.

Tom yang frustasi kehilangan Summer, merasa hidupnya tak seceria dulu, tak semangat dulu, tidur tak nyenyak, makan tak kenyang, mati segan, hidup tak mampu akhirnya memutuskan keluar dari perusahaan yang selama ini adalah tempat menyalurkan bakatnya dalam menuliskan kata-kata yang briliant di kartu ucapan. Ia sadar kalau selama ini ia salah dan tak lebih dari omong kosong belaka. Cinta seharusnya diungkapkan bukan dengan kata-kata orang lain lewat kartu ucapan. Si Tom jadi stres dan mabok.

Takdir kemudian memberikan mereka kesempatan lagi untuk bertemu saat Tom naik satu kereta dengan Summer menuju hajatan. 

Tom yang sangat polosnya lagi-lagi menjadi korban kegeeran dan PHP meladeni Summer. Memang Tom masih mencintai Summer, wajar cinta membutakan logika cui.

Saat mereka hadir di pesta hajatan, Summer tiba-tiba memberikan surat undangan party yang akan diadakan di apartemennya kepada Tom.

Tom yang sumringah dan pede akan disambut Summer dengan khayalannya yang tinggi ternyata tidak sesuai kenyataan (bahkan di scene tersebut dibuat dengan sengaja dua versi antara kenyataan dan harapan, ngakak). Ia harus melihat jari Summer sudah dilingkari oleh cincin. 

Tom yang hatinya berulang kali hancur akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat terkutuk itu. Memang kamfret.

Tom tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan lalu memutuskan untuk melamar pekerjaan lagi dengan bekal ilmu arsitek yang dimilikinya.

Tak disangka takdir mempertemukan mereka sekali lagi di tempat mereka yang singgahi dulu alias comfort zone nya Tom.

Gue yang ngomong sendiri sambil memarahi Tom agar jangan meladeni Summer lagi tidak dituruti Tom. Dasar bandel.

Tom pun bertanya mengapa? Mengapa? Summer bercerita itu terjadi saja, ia bertemu dengan pria lalu menikah denganya. Lalu dengan kejamnya Summer mengatakan ia tidak pernah yakin dengan Tom. Tom yang sakit hati akhirnya merelakan Summer agar bahagia. Memang kamfret. Asli.

Tom kemudian move on dengan seseorang yang baru ia temui untuk wawancara di perusaahan yang ia lamar. Nama perempuan itu Autumn. Ngakak kenapa juga namanya harus sesudah Summer wkwkwk.

So pesan moral yang gue tangkep:

– Tidak semua yang kamu anggap baik adalah baik untuk mu

– Tidak semua kisah cinta berakhir bahagia

– Kamu sebenarnya tidak pernah kecewa. Kamu kecewa karena harapan yang kamu bangun sendiri.

Must see.

Review Predestination

Predestination. Film yang menarik, merangsang rasa penasaran, diajak berputar-berputar dan benar saja dibikin migraine karena harus “thinking out loud” seperti lagunya Ed Sheeran sesudahnya.

Predestination yang tayang beberapa jam lalu di Trans Tv berhasil membuat gue excited untuk mereview disini. 

Film yang bergenre fantasy tahun 2014 ini berkisah tentang seorang atau lebih penjelajah waktu layaknya Doraemon dan Nobita yang dengan sesuka hati kembali ke masa lalu atau sebaliknya untuk merubah sesuatu. 

Mesin waktu yang satu ini pun unik yang gue kira dan si Jane (tokoh utama wanita) tempat alat musik. 

Awal kisah Jane (yang kini disebut John) seorang yang kini pria sejati (gue kira Leonardo Dicaprio) berbagi kisah dengan seorang penjaga bar sebut saja bartender (belakangan diketahui adalah seorang penjelajah waktu) tentang masa kelam Jane yang hancur lebur saat menjadi wanita.

Jane, seorang yang sebenarnya bukan yatim piatu harus dibesarkan di panti asuhan.

Ia tumbuh menjadi gadis cantik, pintar namun dianggap aneh termasuk dirinya sendiri. Karena keanehannya, ia pun tidak mempunyai teman.

Jane yang kemudian ikut seleksi penerimaan disebuah perusahaan, harus gagal karena sebuah pertengkaran bodoh dengan calon pelamar lainnya. Itulah yang kemudian membuatnya untuk ikut sekolah atau kursus kepribadian karena satu-satunya keahlian yang tidak ia kuasai.

Singkat waktu, Jane bertemu dengan seorang pria. Ia pun jatuh cinta untuk pertama kalinya. Jane yang memang polos, lugu karena tidak pernah jatuh cinta akhirnya melanggar semua aturan yang dibuatnya untuk menjaga kesuciannya. Ia hamil dan melahirkan sendirian karena pria yang ia cintai telah meninggalkannya.

Rasa sakit setelah ditinggalkan pria yang baru saja ia kenal dan cintai, ditambah rasa sakit (pendarahan hebat) akibat melahirkan secara secar yang mengharuskan rahimnya diangkat. Dokter pun menyarankan untuk melakukan operasi transgender hampir sebelas bulan penuh. 

Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula, rasa sakit tidak kunjung berhenti menimpanya. Bayi perempuannya diculik!!.

Jane yang telah lelah menjadi wanita dengan sekelumit dramanya (bagaikan sinetron) kini siap menjadi pria utuh namun tidak tahu apa-apa tentang menjadi pria kecuali merokok, suara yang diberat-beratkan dan sperma aktif yang kini dimilikinya. 

(Kembali ke laptop).

Setelah mendengar cerita Jane, seorang penjaga bar tadi pun menawarkan jasa untuk membantu Jane membalaskan dendamnya alias membunuh pria yang tidak pernah diharapkan Jane itu hadir dalam hidupnya. Dan disinilah semua baru terungkap bahwa penjaga bar itu adalah salah satu agen pemerintah (penjelajah waktu) yang diberi tugas oleh Tuan Robertson (salah satu penguji atau pewawancara Jane saat melamar perusahaan dulu).

Singkat cerita, Jane dan penjaga bar itu masuk ke dimensi waktu (dengan mesin waktu yang unik tadi) saat Jane masih menjadi wanita. Jane yang kini menjadi pria ditakdirkan bertemu dengan Jane masa lampau, persis dengan adegan saat Jane masa lampau bertemu dengan pria yang baru ia kenal dan cintai.

Mereka pun bercerita, memuji dan menyindir satu sama lain hingga akhinya jatuh cinta. Adegan saat Jane masa lampau ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai ternyata dilakukan oleh Jane masa depan (yang sekarang alias dia sendiri. Ketahuan kedok pria br*ngsek itu sebenarnya siapa). Jane masa depan pun akhirnya tersadar bahwa penjaga bar tadi telah menipunya. Ia pun sudah terlanjur mencintai Jane masa lampau dan tidak ingin meninggalkanya.

Penjaga bar yang kemudian melompat waktu harus melaksanakan tugasnya juga untuk mencegah seorang teroris yang akan meledakkan sebuah kota. Belakangan ia baru tahu, bahwa si teroris itu adalah dirinya sendiri namun sudah didor terlebih dahulu olehnya karena ketidakpercayaannya terhadap apa yang diungkapkan oleh si teroris itu.

Mendekati ujung cerita, gue juga baru tahu bahwa sebenarnya si penjaga bar ini adalah si Jane sendiri, karena bekas luka atau jahitan operasi jelas betul ada dibadannya saat scene ketika Jane baru dinyatakan sebagai pria. Sekelebat scene juga menunjukkan bahwa dia telah melakukan face off sehingga tidak mirip sama sekali dengan Jane alias John, nama yang ia berikan kepada Jane. Gue yakin 90% si penjaga bar ini ialah si Jane sendiri.

Itu yang bikin cerita sehat atau mabuk lem aibon? Penonton diajak berputar-putar yang sebenarnya pelakunya cuma satu, pantas saja kalau poster filmnya hanya penjaga bar itu sendiri (koreksi di komentar kalau gue salah), alias si Jane alias si John. Tokohnya cuman satu!.

Di ujung cerita juga dibuka tentang fakta bahwa bayi Jane yang sebelumnya diculik, sebenarnya diculik oleh penjaga bar tadi yang kemudian dititipkan ke panti asuhan dimana Jane dibesarkan.

Kesimpulan:

Jane yang masih menjadi wanita berubah menjadi pria pasca melahirkan karena bertemu dan dihamili oleh Jane masa depan yang menjadi pria. Jane tidak akan menjadi pria kalau tidak bertemu dengan Jane masa depan yang sudah menjadi pria. Jane masa depan berubah menjadi pria karena Jane di masa lampau operasi transgender. Bayi Jane diculik oleh si penjaga bar. Bayi perempuan tadi bernama Jane dititipkan di panti asuhan. Bayi perempuan tadi ialah Jane yang di masa depan menjadi pria. Penjaga bar tadi ialah si Jane alian John yang sudah menjadi pria melakukan face off, terbukti dari bekas jahitan operasi setelah Jane melakukan operasi transgender menjadi pria. 

Gila kan? So siapa yang duluan? PR buat masing-masing hahahahah 😂😭

Gue jadi inget, tema film menjelajah waktu ini sama persis dengan doraemon dan nobita yang pergi ke mesin waktu untuk menyelidiki uang ayahnya yang hilang, dan ternyata nobita sendirilah yang mengambilnya dengan inisiatif agar uang tersebut tidak hilang.

Salut buat si penulis cerita, yang beginilah yang disebut jenius. Semakin penonton dibuat bingung, semakin kita keliatan bodoh. Ok berhasil pak 😂

Recommend buat penyuka film yang berkategori seperti ini. Must see ☺

Nb: Nama Pemain

  1. Ethan Hawke sebagai penjaga bar
  2. Sarah Snook sebagai Jane
  3. Noah Taylor sebagai Tuan Robertson

Tentang Horror dan The Conjuring 2

Apa cuma gue disini yang bilang The Conjuring 2 tidak seseram yang pertama? Okelah itu kisah nyata tapi menurut gue backsoundnyalah yang berhasil membuat orang jerat-jerit gak karuan di bioskop (jadi jangan takut duluan), selain itu ada beberapa adegan yang mudah kebaca.

Temen sebelah gue yang terkejut juga gue ingetin “itu cuma backsoundnya ka yang bikin seram”. Melengok sebelah kiri gue, orangnya sudah ketutupan jaketnya sendiri.

Jujur gue memang tidak suka nonton film horror akhir-akhir ini karena sering mengecewakan, kecewa karena biasa saja, kecewa endingnya gak nyambung, kecewa uang terbuang sia-sia, dan sekalinya ketemu film yang bener-bener seram kecewa juga karena teringat, kamfret.

Mengapa orang suka sekali dengan film yang bergenre seperti ini? Bisa jadi karena penasaran, ada juga yang penasaran padahal takut (untuk yang memang penakut), juga ikut-ikutan temennya yang sudah terlebih dahulu nonton dan menggembar-gemborkan ceritanya (pengalaman pribadi).

Menurut gue film horror sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti diri sendiri sesudahnya. Just sayin.

Harusnya kemaren nonton Now You See Me 2 😦

Review The Little Prince

image

Sekali lagi gue harus akui, peranan trailer suatu film terhadap minat penonton itu memang punya pengaruh yang besar (gak perlu diuji lagi dengan buat skripsi, sotoy) buktinya gue langsung jatuh cinta dan penasaran sama film yang diadaptasi dari novel terkenal karangan Antoine de Saint-Exupery ini hanya gara-gara trailernya, tanpa harus cari tahu dulu novelnya, sinopsis, dan review yang sudah dibuat oleh mereka si pelahap dan penikmat film.

Oke langsung saja. Cerita film dimulai dengan adegan seorang gadis kecil yang sedang latihan berbicara (dibimbing ibunya) untuk menghadapi ujian masuk akademi atau sekolah favorit. Namun apa yang dirapal gadis kecil itu ternyata diluar dugaan dengan pertanyaan yang dikira ibunya out of the box dari biasanya oleh penguji, dan akhirnya gadis kecil dan ibunya ini kebingungan. Singkat cerita gadis kecil ini dan ibunya pindah ke suatu tempat dimana anaknya harus menghabiskan masa liburan musim panasnya dengan belajar dan belajar berdasarkan rencana hidup yang dibuat oleh ibunya sendiri demi masa depan anaknya yang lebih baik.

Saat pindahan di rumah barunya, mereka sudah disambut oleh banyaknya burung dari tetangga sebelahnya yang kemudian memaksa si ibu harus mengusir burung-burung tersebut dengan air.

Mereka bertetangga dengan pemilik rumah yang nyentrik, kakek-kakek, yang dianggap aneh oleh lingkungan sekitar, mungkin karena sebatang kara atau gaya hidupnya. Suatu ketika, ketika ibu gadis kecil ini pergi kerja, kejadian baling-baling pesawat kakek nyentrik itu merusak rumah gadis kecil ini. Itulah kali pertama gadis kecil ini bertemu dengan kakek ini yang akan merubah hidupnya.

Melompat cerita gadis kecil ini lalu berteman dengan kakek ini dan melupakan tugas atau pun jadwal harian dari ibunya. Si kakek yang sedari awal memang bercerita tentang pangeran kecil melalui imajinasinya dimana “menjadi dewasa bukan masalah tapi melupakan masalahnya” membuat si gadis kecil ini perlahan-lahan juga larut didalamnya melalui lembaran demi lembaran tulisan dan gambar dari kakek itu. Si kakek pun mulai mengakhiri ceritanya tentang pangeran kecil kalau tiap pertemuan pasti ada perpisahan. Si kakek bercerita seolah olah dia akan berpisah dengan gadis kecil ini dimana ujar si kakek “namun jika kamu melihat dengan hatimu, aku akan selalu bersamamu”. Ini yang membuat gadis kecil ini tidak puas dan marah karena endingnya yang menyedihkan. Gadis kecil ini pun pergi meninggalkan kakek nyentrik ini.

Lalu kejadian yang tak terduga menimpa si kakek ini dimana ia harus dilarikan ke rumah sakit yang membuat gadis kecil ini menyesal dan menangis. Ia pun berinisiatif mencari tahu ujung cerita pangeran kecil si kakek melalui imajinasinya sendiri. Dan akhirnya dia mulai memahami apa yang dimaksud si kakek tentang “hanya dengan hatilah seseorang dapat melihat dengan benar, yang paling penting justru tak terlihat oleh mata”.

Akhir cerita gadis kecil dan ibunya mengunjungi kakek nyentrik ini di rumah sakit dan ketiganya larut dalam keharuan.

Ok guys mungkin agak sedikit berantakan dalam gue mereview film ini dengan cerita yang sengaja gue lompat-lompat. Untuk detailnya kalian bisa langsung nonton film ini atau beli novel larisnya, semoga sedikit membantu buat kamu yang mau nonton film ini hehehe πŸ˜€

Sedikit pesan moral yang gue tangkep dari film ini:
1. Orang dewasa kadang lupa memperlakukan anak-anaknya seolah mereka tidak pernah menjadi seorang bocah. Mereka tanpa sadar melupakan masa kecil ketika dulu tidak ada seorang dewasa pun yang mengerti maunya
2. Orang dewasa sering menuntut anak-anaknya untuk mengerti kemauan orang tuanya bukan sebaliknya. Padahal seharusnya orang dewasa atau orang tua lah yang mesti mengerti kemauan anak-anaknya karena mereka pernah menjadi anak-anak.
3. Orang dewasa kebanyakan menjalani hidup dengan terlalu serius, rumit, berlebihan, monoton dan sibuk mengejar kehidupan seperti materi yang penuh dengan angka-angka, karir, kesuksesan, percintaan hingga lupa menikmati kehidupan dengan hal-hal yang sebenarnya sederhana di kaca mata anak-anak.
4. Anda tidak bisa menyamaratakan cara pandang seseorang terhadap kehidupan
5. Dunia anak-anak adalah dunianya imajinasi yang kadang-kadang diluar nalar namun sebenarnya sederhana

Recommend, it’s a must πŸ˜€

N.b. nama karakter sengaja tidak disebutkan atas permintaan (dibaca tidak hapal) :p

Review Paper Towns

image

Berawal dari trailer yang tayang disalah satu acara di stasiun tv swasta Indonesia, film ini direview oleh hostnya yang membuat gue ngebet mau nonton. Reviewnya mengatakan kalau film ini mengisahkan seorang cowok yang dibantu teman-temannya dalam mencari dan memecahkan potongan-potongan petunjuk yang ditinggalkan untuk menemukan keberadaan cewek yang disukainya. Berasa agak mirip dengan adegan di film Indonesia yang pemainnya Adipati Dolken dan Eva Celia dengan judul Adriana, tapi miripnya hanya nyari petunjuk itu doang. Gak hanya review itu saja yang bikin gue tambah penasaran sama Paper Towns, ternyata film yang diadaptasi dari novelnya ini adalah pengarang yang sama di film The Fault In Our Stars. Kebayangkan ekspektasi yang gue ciptain buat film ini bakal sama dengan film sebelumnya walaupun bukan cerita sambungan.

Oke langsung saja, sumpah cerita film ini bener-bener gak sesuai ekspektasi, gak ketebak, so unpredictable. Mereka (author) yang membuat bingung si penonton mungkin bisa disebut jenius, semakin kita dibuat bingung semakin kita keliatan seperti orang bodoh, oke sukses pak. Okelah si author/ pengarangnya John Green punya gaya sendiri yang membuat gue salut dan bahaya. Salut karena cukup berani membuat cerita yang gak sesuai ekspektasi orang kebanyakan, bahaya karena tidak semua penonton menyukainya.

Langsung ke isi cerita deh. Dari awal gue memang kurang suka sama si karakter Margo, pemeran utama cewek. Karakter yang rumit, suka misteri, petualangan dan pikirannya gak kayak orang kebanyakan. Kelakuannya kayak minta perhatian sama si Quentin, pemeran utama cowok. Saat dia masih bersama orang lain, dia pergi meninggalkan Que, pergi meninggalkan bekas kayak kopi yang abis diminum meninggalkan ampas. Namun saat si Margo tahu kalo pacarnya itu br*ngsek barulah ia muncul kembali kebatangidungnya Que, apa gak kamfret. Tapi si Que nurut aja diajakin balas dendam ke pacarnya Margo. Kalau dipikir-pikir gak heran juga karena memang dari awal si Que udah jatuh cinta sama Margo, wajar cinta kan memang membutakan mata seseorang 😦 Jadi inget quote yang bilang kenapa orang baik selalu pergi dengan orang yang salah.

Kelakuan si Margo yang kemudian hilang begitu aja mengindikasikan kalau dia itu memang minta perhatian. Tapi belakangan atau di akhir cerita baru tahu kalau dia pergi memang tidak ingin dicari oleh Que, karena kota itu (salah satu nama kota di New York) memang cocok untuk gadis seperti dia, jadi memang sengaja menghilang. Que mengira petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan Margo adalah alasan untuk dirinya ditemukan (get lost get found) padahal Margo memang selalu meninggalkan petunjuk dirumahnya kalau dia sedang pergi. Kebayang bermil-mil Que tempuh ke kota itu dari Orlando demi mencari Margo untuk mengungkapkan perasaannya dibayar dengan kenyataan yang harus ia terima. Jadi kesimpulannya si Que hanyalah korban kegeeran dan baper banget (koreksi kalau gue salah). Ini yang gue sebut gak sesuai ekspektasi.

Berikut kutipan yang berhasil gue catet dari film ini:

Yang paling buruk adalah percaya orang itu lebih dari segalanya. Margo bukanlah keajaiban, dia bukan petualangan, dia bukan benda yg berharga, dia hanyalah seorang gadis. Butuh waktu lama bagiku untuk menyadari aku sangat salah. Bukan hanya tentang margo, aku salah mengenai banyak hal, dulu aku percaya semua orang dapat keajaiban, dan aku masih mempercayainya, tapi ternyata keajaiban aku adalah ini (adegan saat bersama teman-temannya Radar dan Ben) – Quentin, Paper Towns

Pesan moral yang gue tangkap dari film ini:
1. Tidak semua yang kamu anggap baik adalah baik untuk mu begitu pun sebaliknya.
2. Jangan sekali-kali kamu nentuin sendiri dan menebak-nebak alur cerita film, karena itu hanya akan membuat kamu kecewa

Oke sekian review ku, semoga bermanfaat buat kamu yang mau nonton film ini. Jangan berharap terlalu banyak ya, karena jika kamu kecewa itu karena harapan yang kamu bangun sendiri πŸ˜€