Review Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye

Novel inilah yang melatar belakangi gue mulai suka dengan karya-karyanya Tere Liye (belakangan baru tahu Tere Liye adalah “untuk dirimu” dalam bahasa india lewat drama India SwaraGini). Tidak sabar untuk membahasnya.

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami.

Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa.

Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami.

Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun.

Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. 

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. 

Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. 

Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua. 

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya – pengantar Novel

Awal cerita tidak bisa langsung menemukan hal menarik bahkan bisa saja langsung disudahi, tapi sabarlah atau akan menyesal jika tidak selesai membacanya (pengalaman gue hanya 7 jam an untuk melahap habis novel ini).

Dibuka di suatu toko buku di dalam Mall, Tania pemeran utama cewek sedang memandang jalanan yang gerimis di lantai 2 toko buku. Di tempat itulah ia mengenang semua kejadian yang telah lalu, sedih lucu bahagia campur aduk. Pun tiap bab selalu diulang tentang tempat bersejarah ini. 

Ini tentang dua anak kecil bersaudara yang harus mengamen di bus. Mereka anak yatim ketika si adik, Dede (ingatan gue langsung tertuju Dede yeyelalalala hanya karena namanya), berumur 3 tahun dan kakaknya Tania yang berumur 8 tahun. Hidup mereka nelangsa sejak ditinggal mati sang ayah. Ibunya kerja serabutan setiap harinya dan anak-anaknya terpaksa harus berhenti dan tidak bisa sekolah karena alasan biaya, pun untuk bisa makan saja sudah alhamdulillah. Mereka tinggal dirumah kardus yang setiap waktu bisa saja roboh kalau hujan lebat atau ketika Dede tidak bisa menahan tawanya yang meledak-ledak jika ada kejadian lucu.

Sampai pada satu momen kaki Tania tertusuk paku payung saat ia dan Dede sedang mengamen di bus. Tania dan Dede memang selalu bertelanjang kaki ketika mengamen. Tania yang jadi pesakitan menarik perhatian seorang lelaki muda tinggi tampan, untuk membantu Tania membalut luka kakinya yang sudah berdarah-darah dengan sapu tangan putih yang dimiliki pemuda itu. Tania sangat terharu dan berterima kasih.

Keesokan harinya, takdir mempertemukan mereka kembali, pemuda itu memberikan hadiah sepatu sneakers untuk keduanya. Sepatu baru yang bersih, dan kaos kaki putih sangat kontras dengan penampilan dua kakak beradik yang lusuh kumel tak terurus hitam dan penuh daki (improvisasi).

Sejak saat itu anak muda yang belakangan dipanggil om Danar selalu menolong apa saja demi Tania, Dede, dan Ibu mereka termasuk bisa makan bangku sekolah lagi. Om Danar yang sudah sebatang kara sejak kecil bagai telah menemukan keluarga baru. Pun bagi Tania, Dede dan ibu mereka bagai telah menemukan malaikat penolong sejati.

Hal menarik baru muncul ketika Tania merasakan perasaan cemburu saat om Danar mengajak teman dekatnya mba Ratna atau tante Ratna ke dufan ataupun kegiatan lainnya. Ia merasa posisinya terancam. Perasaan cemburu menjadi suka yang seharusnya belum dimiliki seorang anak seusia itu lambat laun akan berubah menjadi cinta (gue jadi teringat film Om, I love You) dan semakin mekar saat ia tumbuh menjadi remaja yang cantik nanti.

Hari yang tidak pernah diduga dan diharapkan datang, sang ibu meninggal karena kanker paru-paru yang sudah stadium 4. Penyakit yang menggerogoti sang Ibu selama ini telah tertutupi oleh perasaan bahagia melihat Tania dan Dede bisa sekolah lagi dan kebahagiaan lainnya setelah om Danar datang. Tania, Dede, om Danar dan mba Ratna telah tertipu. Tania dan Dede harus menerima kenyataan menjadi yatim piatu dan om Danar lah yang akhirnya bisa membujuk mereka untuk pulang. Mereka harus bisa belajar ikhlas karena daun yang jatuh tak pernah membenci angin. 

Sepeninggal sang ibu, Tania dan Dede tinggal bersama om Danar. Om Danar selain menjadi malaikat mereka, juga sebagai sosok pengganti ibu keduanya.

Satu persatu kepintaran Tania yang sudah ditebak ibu dan om Danar dulu mulai terlihat ketika ia berhasil menerima beasiswa untuk melanjutkan SMP di Singapura. Perasaan tidak ingin berpisah dengan Dede dan om Danar akhirnya diyakinkan lagi oleh om Danar hingga Tania berhasil melanjutkan SMA, kuliah bahkan kerja disana.

Cinta yang telah tumbuh dan dipupuk sudah sejak lama sampai sekarang kepada om Danar, yang kemudian dipanggil kak Danar oleh Tania, tidak mampu Tania sampaikan dengan kata-kata (walau hanya terekspresikan lewat sikap) karena Tania merasa tidak pantas dan tidak sampai hati harus merusak hubungan kakak adik yang selama ini terjalin. Hingga pada satu momen terkutuk kak Danar akan menikahi teman dekatnya mba Ratna atau tante Ratna. Hati Tania hancur berkeping-keping seperti sop buah untuk buka puasa yang jatuh dijalan dan dilindas motor tak berperasaan (pengalaman pribadi).

Tania akhirnya memutuskan tidak menghadiri pesta pernikahan kak Danar dan mba Ratna karena tidak mungkin bagi dirinya untuk bisa tersenyum bahagia dengan lepas melihat secara langsung pernikahan malaikat yang dicintainya.

Dede yang sudah mengetahui perasaan kakaknya dari dulu akhirnya memberi tahu rahasia bahwa liontin yang diterima kakaknya saat ulang tahun adalah liontin dengan potongan daun linden yang sama dimiliki oleh kak Danar yang kalau disatukan berbentuk hati. Teka teki lainnya bahwa kak Danar juga memiliki perasaan yang sama terhadap Tania adalah proyek tulisan yang belum selesai dan tak akan pernah selesai setelah kejadian kak Danar menikah dengan mba Ratna. Judul proyek tulisan itu adalah “cinta dari pohon linden”. Pohon linden adalah pohon yang tumbuh didekat rumah kardus Tania, Dede dan ibu mereka tinggali dulu. Belakangan diketahui tanah bekas rumah kardus Tania, Dede dan Ibu mereka dulu yang pohonnya masih ada ternyata dibeli oleh kak Danar.

Terkuak sudah misteri kenapa mba Ratna meninggalkan kak Danar ke rumah orang tuanya karena Danar ternyata sama sekali tidak mencintai Ratna (lalu untuk apa dipaksakan menikah bila tidak bersama seseorang yang dicintai, Danar? Gue bertanya). Tania yang berusaha membantu kak Ratna mencari keberadaan kak Danar akhirnya ditemukan dibawah pohon linden. Disanalah semua pertanyaan yang selama ini terpenjara di dalam hati Tania telah bebas terbang dari mulutnya, namun kak Danar selalu mengelak dan memberi jawaban seolah-olah lugu seperti anak kecil (apakah kak Danar juga merasa tak pantas mencintai Tania yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri?).

Karena Tania tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti dan jujur langsung dari kak Danar, ia pun memutuskan untuk tidak pernah kembali ke Indonesia dan melanjutkan hidupnya di Singapura.

Pesan moral yang berhasil gue tangkap dari kehendak penulis adalah:

1. Cinta itu fitrah

2. Cinta itu tidak mengenal usia

3. Cinta itu buta bila tidak melihat dengan mata

4. Cinta yang penuh khayalan kadang kalah dengan realita atau kenyataan

5. Cinta itu pahit bila hanya bersemi di dalam hati

6. Cinta itu perih bila tidak diutarakan

7. Cinta itu omong kosong bila tidak memiliki

8. Cinta itu pengorbanan

9. Cinta itu ikhlas

10. Karena cinta tidak selalu berakhir bahagia