Review The Little Prince

image

Sekali lagi gue harus akui, peranan trailer suatu film terhadap minat penonton itu memang punya pengaruh yang besar (gak perlu diuji lagi dengan buat skripsi, sotoy) buktinya gue langsung jatuh cinta dan penasaran sama film yang diadaptasi dari novel terkenal karangan Antoine de Saint-Exupery ini hanya gara-gara trailernya, tanpa harus cari tahu dulu novelnya, sinopsis, dan review yang sudah dibuat oleh mereka si pelahap dan penikmat film.

Oke langsung saja. Cerita film dimulai dengan adegan seorang gadis kecil yang sedang latihan berbicara (dibimbing ibunya) untuk menghadapi ujian masuk akademi atau sekolah favorit. Namun apa yang dirapal gadis kecil itu ternyata diluar dugaan dengan pertanyaan yang dikira ibunya out of the box dari biasanya oleh penguji, dan akhirnya gadis kecil dan ibunya ini kebingungan. Singkat cerita gadis kecil ini dan ibunya pindah ke suatu tempat dimana anaknya harus menghabiskan masa liburan musim panasnya dengan belajar dan belajar berdasarkan rencana hidup yang dibuat oleh ibunya sendiri demi masa depan anaknya yang lebih baik.

Saat pindahan di rumah barunya, mereka sudah disambut oleh banyaknya burung dari tetangga sebelahnya yang kemudian memaksa si ibu harus mengusir burung-burung tersebut dengan air.

Mereka bertetangga dengan pemilik rumah yang nyentrik, kakek-kakek, yang dianggap aneh oleh lingkungan sekitar, mungkin karena sebatang kara atau gaya hidupnya. Suatu ketika, ketika ibu gadis kecil ini pergi kerja, kejadian baling-baling pesawat kakek nyentrik itu merusak rumah gadis kecil ini. Itulah kali pertama gadis kecil ini bertemu dengan kakek ini yang akan merubah hidupnya.

Melompat cerita gadis kecil ini lalu berteman dengan kakek ini dan melupakan tugas atau pun jadwal harian dari ibunya. Si kakek yang sedari awal memang bercerita tentang pangeran kecil melalui imajinasinya dimana “menjadi dewasa bukan masalah tapi melupakan masalahnya” membuat si gadis kecil ini perlahan-lahan juga larut didalamnya melalui lembaran demi lembaran tulisan dan gambar dari kakek itu. Si kakek pun mulai mengakhiri ceritanya tentang pangeran kecil kalau tiap pertemuan pasti ada perpisahan. Si kakek bercerita seolah olah dia akan berpisah dengan gadis kecil ini dimana ujar si kakek “namun jika kamu melihat dengan hatimu, aku akan selalu bersamamu”. Ini yang membuat gadis kecil ini tidak puas dan marah karena endingnya yang menyedihkan. Gadis kecil ini pun pergi meninggalkan kakek nyentrik ini.

Lalu kejadian yang tak terduga menimpa si kakek ini dimana ia harus dilarikan ke rumah sakit yang membuat gadis kecil ini menyesal dan menangis. Ia pun berinisiatif mencari tahu ujung cerita pangeran kecil si kakek melalui imajinasinya sendiri. Dan akhirnya dia mulai memahami apa yang dimaksud si kakek tentang “hanya dengan hatilah seseorang dapat melihat dengan benar, yang paling penting justru tak terlihat oleh mata”.

Akhir cerita gadis kecil dan ibunya mengunjungi kakek nyentrik ini di rumah sakit dan ketiganya larut dalam keharuan.

Ok guys mungkin agak sedikit berantakan dalam gue mereview film ini dengan cerita yang sengaja gue lompat-lompat. Untuk detailnya kalian bisa langsung nonton film ini atau beli novel larisnya, semoga sedikit membantu buat kamu yang mau nonton film ini hehehe 😀

Sedikit pesan moral yang gue tangkep dari film ini:
1. Orang dewasa kadang lupa memperlakukan anak-anaknya seolah mereka tidak pernah menjadi seorang bocah. Mereka tanpa sadar melupakan masa kecil ketika dulu tidak ada seorang dewasa pun yang mengerti maunya
2. Orang dewasa sering menuntut anak-anaknya untuk mengerti kemauan orang tuanya bukan sebaliknya. Padahal seharusnya orang dewasa atau orang tua lah yang mesti mengerti kemauan anak-anaknya karena mereka pernah menjadi anak-anak.
3. Orang dewasa kebanyakan menjalani hidup dengan terlalu serius, rumit, berlebihan, monoton dan sibuk mengejar kehidupan seperti materi yang penuh dengan angka-angka, karir, kesuksesan, percintaan hingga lupa menikmati kehidupan dengan hal-hal yang sebenarnya sederhana di kaca mata anak-anak.
4. Anda tidak bisa menyamaratakan cara pandang seseorang terhadap kehidupan
5. Dunia anak-anak adalah dunianya imajinasi yang kadang-kadang diluar nalar namun sebenarnya sederhana

Recommend, it’s a must 😀

N.b. nama karakter sengaja tidak disebutkan atas permintaan (dibaca tidak hapal) :p

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s